Nama baiknya Tercemar Usai Video Viral, Mia Renita Tempuh Jalur Hukum

Jakarta – Seorang karyawan swasta bernama Mia Renita mengaku menjadi korban dugaan fitnah dan pencemaran nama baik setelah videonya bersama seorang pengemudi taksi online viral di media sosial berinisial KMA. Video tersebut menampilkan seolah-olah Mia tidak membayar ongkos perjalanan sebesar Rp22.000, padahal menurut pengakuannya, pembayaran telah dilakukan pada hari yang sama.

Peristiwa itu terjadi pada Minggu, 4 Januari, sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu, Mia menggunakan layanan taksi online untuk menuju sebuah tempat perawatan kecantikan mata. Dalam perjalanan, Mia menyadari tidak membawa uang tunai. Ia kemudian memohon izin kepada pengemudi untuk mentranser tapi pengemudi tidak bersedia memberikan nomor rekningnya & berkata kasar menuduh Mia akan menipu. Akhirnya Mia menyampaikan bahwa dia sebagai karyawan swasta di sebuah tempat tidak mungkin merusak reputasinya atau menipu & Mia memohon driver untuk singgah sebentar ke ATM yang lokasinya sangat dekat dari titik penurunan.

Namun permintaan tersebut ditolak. Mia juga mengaku telah menawarkan alternatif pembayaran lain, seperti transfer melalui nomor rekening pengemudi, tetapi kembali tidak diperbolehkan. Penolakan itu disertai kata-kata yang menurut Mia menyakitkan, termasuk tuduhan bahwa dirinya berniat melakukan penipuan.

“Sejak awal saya tidak pernah berniat kabur atau tidak membayar. Saya hanya meminta waktu sebentar untuk ke ATM yang jaraknya sangat dekat,” ujar Mia pada wartawan pada Sabtu (10/12/2025).

Situasi semakin memanas ketika pengemudi mengklaim tidak membutuhkan uang tersebut dan menyatakan memiliki banyak toko di sebuah pusat perbelanjaan. Ia bahkan menyebut ongkos perjalanan tersebut digratiskan, lalu meminta Mia turun dan pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkannya dalam keadaan bingung.

Yang membuat Mia semakin terpukul, kejadian tersebut ternyata direkam dan di edit untuk dijadikan konten oleh pengemudi yang belakangan diketahui merupakan seorang konten kreator digital. Menurut Mia, video yang beredar telah melalui proses pengeditan sehingga hanya menampilkan potongan percakapan yang menyudutkannya, sementara kata-kata kasar dan sikap provokatif pengemudi tidak ditampilkan.

Mia terkejut melihat pengemudi mengikutinya ketempat perawatan & menyadari masih direkam, Mia kembali menemui pengemudi untuk menyatakan keinginannya membayar. Namun respons yang diterima justru bernada tinggi dan terkesan dramatis. Akhirnya, seorang beautician di lokasi tersebut memanggil security & Mia meminta tolong beautician untuk membayar ke driver sebesar 50 ribu namun beautician membantu melakukan pembayaran menggunakan akunnya senilai 22 ribu, dan Mia langsung mengganti uang tersebut sebesar Rp50.000 ke beautician tersebut pada saat itu juga.

Mia menegaskan bahwa pembayaran ongkos taksi telah dilakukan pada hari yang sama dan memiliki bukti transaksi. Ia juga membantah keras tuduhan telah memberikan penilaian bintang satu kepada pengemudi. Beberapa waktu kemudian, pihak penyedia layanan taksi online menghubungi Mia untuk mengonfirmasi dugaan tidak adanya pembayaran. Hal ini membuat Mia terpaksa menjelaskan kronologi lengkap kejadian, meski sebelumnya ia mengaku tidak pernah melaporkan pengemudi tersebut.

Akibat video yang terlanjur viral dan diberitakan oleh sejumlah media, Mia mengaku mengalami tekanan mental dan psikis. Ia merasa reputasi serta nama baiknya tercemar, terlebih karena tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta.

“Saya sangat malu dan terpukul. Rekam jejak digital ini akan terus ada, padahal itu bukan saya dan bukan sifat saya,” ungkapnya.

Saat ini, Mia telah melaporkan kejadian tersebut ke lembaga perlindungan perempuan dan anak, serta berencana menempuh jalur hukum untuk meluruskan kebenaran. Ia juga meminta agar konten yang dianggap menyesatkan tersebut diturunkan dan pihak terkait menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Mia berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam membuat konten jangan sampai hanya demi mendapat simpati, keuntungan, followers dan popularitas jadi mengorbankan reputasi orang lain yang berdampak ke banyak hal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *