Jakarta — Sutradara Yusron Fuadi menghadirkan pendekatan berbeda dalam film horor terbarunya berjudul Setan Alas, sebuah karya yang lahir dari kecintaan sekaligus kritiknya terhadap pakem film horor Indonesia era 1980–2000-an.
Film yang akan tayang serentak di bioskop tanah air pada 5 Maret 2026 ini diproduksi oleh Akasacara Film, dengan Munandar Aji W dan Fani Pramuditya sebagai produser, serta Prof. Agus Maryono (Dekan Sekolah Vokasi UGM) sebagai Associate Producer.
Dalam keterangannya, Yusron mengungkapkan bahwa Setan Alas merupakan bentuk selebrasi relasi antara cinta dan kematian yang dibungkus horor, namun tidak hadir sebagai protes semata. Film ini justru lahir dari lubuk hati terdalamnya sebagai pencinta film sejak kecil.

“Dari SD sampai SMA, saya tumbuh dengan film horor—monster, alien, robot. Tapi saya menyayangkan banyak karakter horor lama yang terasa bodoh dan berulang. Setan Alas adalah bentuk kecintaan saya pada film horor, sekaligus upaya mendekonstruksi pola-pola yang sudah mapan,” ujar Yusron pada wartawan usai press screening film “Setan Alas” di Epicentrum XXI, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Keunikan Setan Alas terletak pada pendekatan metanaratifnya. Film ini menghadirkan karakter-karakter yang sadar bahwa mereka hidup di dalam dunia film, sebuah konsep yang jarang disentuh dalam horor Indonesia. Yusron menyebut, gagasan tersebut lahir dari keberaniannya menulis dengan sudut pandang yang tidak biasa.
“Ini film horor yang sadar dirinya film. Kita bermain dengan kesadaran karakter, tapi tetap menjaga agar penonton menemukan pengalaman yang berbeda tanpa kehilangan unsur horornya,” jelasnya.
Film ini juga menjadi ruang kolaborasi lintas generasi dan latar belakang. Selain dibintangi Anastasia Herzigova, Adhin Abdul Hakim, Haydar Salishz, Anggie Waluyo, Winner Wijaya, serta penampilan spesial Hanung Bramantyo, Setan Alas melibatkan puluhan pelajar SMK hingga mahasiswa film. Bahkan, sekitar 140 siswa SMK dari Solo turut ambil bagian sebagai figuran zombie.
“Ini film kebersamaan. Ada mahasiswa, anak SMK, bahkan ini adalah film panjang pertama bagi sebagian besar pemainnya. Kita bikin bareng, makan bareng, tumbuh bareng,” ungkap Yusron.
Lebih jauh, Setan Alas tidak hanya dimaksudkan sebagai tontonan, tetapi juga pernyataan sikap terhadap masa depan perfilman Indonesia. Yusron berharap film ini menjadi bukti bahwa produksi film tidak harus terpusat di Jakarta atau bergantung pada aktor mahal.
“Sekarang kamera sinematik sudah terjangkau. SMK multimedia, kampus, daerah-daerah—semua bisa bikin film. Kalau ada 5–10 film bagus dari berbagai daerah, saya yakin akan muncul suara segar yang memperkaya film Indonesia, bahkan di festival internasional,” pungkasnya .
Dengan semangat kolektif, keberanian ide, dan pendekatan horor yang berbeda, Setan Alas diharapkan menjadi amunisi baru bagi keberagaman sinema Indonesia—bukan hanya sebagai film, tetapi sebagai gerakan kreatif dari akar rumput.


