Jakarta – Sinetron religi legendaris, Para Pencari Tuhan (PPT) Jilid 19, kembali menyapa pemirsa di slot sahur Ramadan dan lagi-lagi mencatatkan rating serta share yang mengesankan. Memasuki musim ke-19, serial yang telah tayang hampir 20 tahun ini membuktikan diri tetap dicintai masyarakat lewat kisah yang hangat, relevan, dan sarat nilai dakwah dengan tema “Tobat Woy”.
Dalam bincang-bincang dengan media secara daring pada Rabu (25/2/2026), sejumlah pemain lama dan baru turut hadir diantaranya H.Deddy Mizwar, Tio Pakusadewo, Raihan Khan, Farisha Fasha, Angga Putra, Ridwan Ghany berbagi cerita tentang pengalaman mereka kembali atau bergabung dalam PPT Jilid 19.
Aktor senior Tio Pakusadewo kembali memerankan karakter Bang Galak (Mbah Galak) yang telah ia lakoni sejak beberapa jilid terakhir. Ia mengaku merasa seperti memasuki “musim keempatnya” di PPT.
Saat ditanya apa yang membuatnya terus kembali, Tio menjawab singkat namun penuh makna: cinta.
“Cinta tak bersyarat,” ujarnya. Ia juga menyinggung perjalanan spiritual pribadinya yang turut berkembang selama terlibat dalam serial ini.
Menurutnya, banyak dialog dan adegan di PPT yang tak hanya menjadi tontonan, tetapi juga perenungan mendalam tentang kehidupan dan makna hijrah.
Karakter-Karakter Baru dengan Pergulatan yang Dekat dengan Realita
PPT Jilid 19 juga menghadirkan warna baru lewat karakter-karakter yang lebih kompleks.
Raihan Khan, yang memerankan sebagai Muluk menjelaskan bahwa karakternya digambarkan sebagai sosok sederhana yang tidak selalu melihat kebenaran secara utuh, namun memiliki proses belajar dan perkembangan diri. Ia mengaku banyak mengambil referensi dari lingkungan sekitar untuk menghidupkan peran tersebut. Sedangkan Farisha Fasha memerakan karakter Pipit dan Ridwan Ghany sebagai Jarot.
Sementara itu, Angga Putra berperan sebagai Samsul, sosok yang memiliki ketakutan dalam mengejar impiannya menjadi guru demi mencerdaskan anak bangsa. Menurut Angga, karakter Samsul cukup menantang karena dialog-dialognya sering kali berada di luar pola pikir pribadinya.
“Memerankan Samsul itu sulit karena cara berpikir dan dialognya tidak pernah terlintas di kepala saya. Jadi saya harus banyak belajar dan latihan,” ungkapnya.
Tokoh-tokoh ini memperkuat benang merah PPT: perjalanan tobat, pencarian jati diri, serta keberanian untuk memulai perubahan.
Aktor, Sutradara sekaligus Produser , Deddy Mizwar, mengungkapkan bahwa menjaga relevansi adalah tantangan terbesar. Setiap tahun, tim berusaha menghadirkan tema yang lebih longgar namun tetap kontekstual dengan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.
“Kami ingin menghadirkan tontonan yang punya isi, punya korelasi dengan kehidupan nyata. Penonton merasa itu bagian dari wajah mereka sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, PPT tidak hanya menghibur, tetapi juga berupaya menyisipkan nilai-nilai religius dengan cara yang ringan dan tidak menggurui.
“Kritik sosial pun disampaikan lewat humor dan dialog yang rileks, sehingga terasa sebagai cermin, bukan sindiran yang menyakitkan,” terang Deddy.
Makna Tobat: Rasa Bersalah atau Keberanian Memulai?
Para pemain juga ditanya soal makna “tobat” dalam konteks cerita. Jawaban yang muncul beragam, mulai dari rasa bersalah atas masa lalu hingga keberanian untuk memulai langkah baru.
Benang merahnya jelas: tobat bukan sekadar penyesalan, tetapi proses dan komitmen untuk berubah menjadi lebih baik. Nilai inilah yang terus diangkat dalam setiap jilid PPT, termasuk Jilid 19.
Deddy Mizwar menegaskan bahwa proses casting menjadi kunci utama keberhasilan serial ini. Menurutnya, kesalahan memilih aktor bisa berdampak besar pada kualitas cerita. Karena itu, setiap pemain yang terpilih memikul tanggung jawab profesional untuk benar-benar menghidupkan karakter yang dipercayakan.
“Penonton tidak melihat siapa yang membuat atau menulisnya. Mereka melihat siapa yang memainkan tokoh itu. Maka tanggung jawab aktor sangat besar,” tegasnya.
Di usia yang hampir menyentuh dua dekade, “Para Pencari Tuhan” Jilid 19 membuktikan bahwa kisah tentang pencarian makna hidup, tobat, dan nilai kemanusiaan tak pernah kehilangan tempat di hati penonton. Ramadan pun terasa lebih hangat dengan sajian reflektif yang menghibur sekaligus menginspirasi.


