Leonard Kristianto Resmi Dilantik Jadi Badan Pengawas WAMI, Siap Benahi Royalti dan Database Musik Indonesia

Jakarta – Produser musik sekaligus figur industri kreatif Indonesia, Leonard Kristianto atau yang biasa disapa Nyo resmi dilantik sebagai Anggota Badan Pengawas Wahana Musik Indonesia (WAMI) pada Senin, 11 Mei 2026 di Jakarta.

Terpilihnya Nyo menjadi bagian dari badan pengawas WAMI menjadi sorotan tersendiri di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap tata kelola royalti musik dan kesejahteraan pencipta lagu di Indonesia.

Dalam keterangannya Nyo mengaku bersyukur atas amanah besar yang diberikan kepadanya. Ia menyebut posisi tersebut bukan sekadar jabatan, melainkan tanggung jawab besar untuk ikut memperbaiki ekosistem musik nasional, khususnya dalam hal distribusi royalti agar benar-benar sampai kepada para pencipta lagu.

Leonard Kristianto bersama para pengawas Wami lainnya yang baru dilantik. (Foto: Istimewa)

Menurut Nyo, selama ini masih banyak persoalan dalam industri musik Indonesia, terutama terkait pendataan karya dan sistem distribusi royalti. Ia menegaskan bahwa WAMI sebagai lembaga manajemen kolektif memiliki peran penting dalam mengelola hak performing rights atau hak pertunjukan dari karya musik, baik di dalam negeri maupun internasional.

“Tujuan utamanya bagaimana royalti itu benar-benar sampai ke penciptanya. Kalau sistem dan databasenya benar, kesejahteraan musisi dan pencipta lagu pasti ikut meningkat,” ujar Nyo saat ditemui di Kantor JK Records dan Pustaka Jeka di Jl.Musi, Cideng, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026)

Ia menjelaskan bahwa di era digital saat ini, musik bukan hanya soal kreativitas, tetapi juga soal sistem data yang presisi. Menurutnya, tantangan terbesar industri musik Indonesia saat ini justru terletak pada persoalan metadata dan database karya musik.

Nyo juga mengungkapkan bahwa banyak pencipta lagu, khususnya generasi senior, masih belum memahami pentingnya metadata dalam sistem distribusi royalti modern. Padahal, dalam industri musik digital, sistem bekerja berdasarkan kode identitas karya, bukan sekadar nama pencipta atau judul lagu.

“Di dalam sistem digital itu, nama kita berubah jadi kode. Judul lagu juga punya kode sendiri. Kalau databasenya tidak benar, sistem tidak bisa mengenali karya itu milik siapa,” jelasnya.

Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti seseorang yang tidak memiliki identitas resmi. Menurutnya, ketika seorang pencipta lagu belum terdaftar di lembaga manajemen kolektif seperti WAMI atau LMK lainnya, maka sistem internasional tidak akan mampu mendeteksi kepemilikan karya mereka.

“Kalau tidak masuk sistem, bagaimana sistem mau tahu itu lagu milik siapa? Sama seperti orang tidak punya KTP, tidak tercatat,” tegasnya.

Pria yang sejak kecil tumbuh di lingkungan studio rekaman itu juga menceritakan motivasinya menerima amanah sebagai anggota badan pengawas WAMI. Nyo mengaku sudah mengenal dunia musik sejak usia 11 tahun karena sering diajak sang ayah berkeliling studio dan bertemu para musisi, pencipta lagu, arranger hingga operator rekaman.
Pengalaman itu membuatnya memahami banyak persoalan yang dihadapi para pelaku industri musik, khususnya pencipta lagu yang kerap mengalami kesulitan ekonomi di usia senja.

“Saya banyak ketemu pencipta lagu senior yang ketika sakit atau sudah tua hidupnya susah. Kadang kita bantu pakai uang pribadi. Itu yang bikin saya merasa harus ikut berkontribusi,” ungkapnya.

Nyo menilai selama ini banyak pihak lebih sibuk saling menyalahkan dibanding mencari solusi bersama. Karena itu, ia memilih untuk ikut terlibat langsung agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi industri musik Indonesia.

“Kalau cuma kritik tanpa ikut membantu, hasilnya tidak akan ada. Saya lebih memilih kerja dan kasih solusi,” katanya.

Dalam perannya sebagai badan pengawas, Nyo menegaskan dirinya tidak ingin sekadar menjadi pihak yang mencari kesalahan pengurus. Ia lebih melihat badan pengawas sebagai mitra strategis yang membantu memperbaiki sistem bersama-sama.

“Saya melihat badan pengawas itu sebagai partner, bukan cuma mengawasi lalu menyalahkan. Kalau ada masalah ya kita selesaikan bersama,” ujarnya.

Nyo juga menyoroti pentingnya transparansi dan akurasi data dalam distribusi royalti. Ia menyebut royalti pada dasarnya merupakan pembagian dana berdasarkan data penggunaan lagu. Karena itu, apabila data yang masuk salah atau tidak lengkap, maka hasil pembagian royalti pun tidak akan akurat.

“Royalti itu bukan dibagi asal-asalan. Semua ada catatannya. Kalau datanya salah, hasilnya pasti salah,” tandasnya.

Di era digital, Nyo menilai WAMI dan lembaga manajemen kolektif lainnya harus terus memperbarui sistem teknologi agar mampu membaca trafik penggunaan musik secara akurat, baik di platform streaming maupun media digital lainnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan berjalan maksimal tanpa kesadaran dari para pencipta lagu untuk menyusun dan memperbarui metadata karya mereka sendiri.

“Kadang yang sulit itu manusianya. Banyak yang malas isi metadata padahal itu penting sekali,” ungkapnya.

Ia juga menilai bahwa hubungan antara WAMI, label musik, pencipta lagu, hingga platform digital harus dibangun atas dasar kepercayaan dan komunikasi yang sehat.

Menurutnya, semua pihak merupakan bagian dari ekosistem musik yang saling membutuhkan.

“Kalau ada masalah jangan saling tuduh. Duduk bareng, cari solusinya,” katanya.

Nyo berharap ke depan industri musik Indonesia bisa semakin dewasa dalam menghadapi berbagai persoalan. Ia percaya bahwa tata kelola royalti yang transparan dan profesional akan membuat industri musik Indonesia lebih dihargai di tingkat internasional.

“Kalau sistem dan tata kelolanya benar, dunia internasional pasti melihat Indonesia serius,” ujarnya.

Sebagai penutup, Nyo menyampaikan pesan kepada para musisi dan pencipta lagu Tanah Air agar segera mendaftarkan karya mereka ke lembaga manajemen kolektif supaya hak-hak mereka dapat terlindungi dengan baik.
Ia juga mengajak seluruh pelaku industri musik untuk lebih peduli terhadap data karya masing-masing dan mengedepankan dialog dibanding konflik.

“Kalau ada masalah, dibicarakan baik-baik. Jangan pakai emosi. Industri musik ini rumah kita bersama, jadi harus dijaga sama-sama,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *