Prilly Latuconsina Bawa “Pocong” ke Cannes, Film Holy Crowd Angkat Satir Sosial dan Fenomena Atensi Publik

Jakarta – Aktris muda berbakat Indonesia, Prilly Latuconsina, kembali mencatatkan langkah penting di panggung perfilman internasional lewat keterlibatannya dalam film Holy Crowd. Film garapan sutradara M. Reza Fahriyansyah dan Ananth Subramaniam tersebut terpilih dalam program Next Step Studio di ajang bergengsi La Semaine de la Critique yang merupakan bagian dari Cannes Film Festival.

Dalam film ini, Prilly memerankan karakter Ratna, seorang perempuan yang secara misterius bangkit kembali saat prosesi pemakamannya berlangsung. Namun kebangkitannya bukan sekadar peristiwa supranatural biasa. Sosok Ratna justru berubah menjadi pusat perhatian warga setelah tubuhnya dipercaya mampu memberikan kesembuhan misterius bagi orang-orang yang datang menemuinya.

Figur pocong yang selama ini identik dengan horor lokal Indonesia diolah menjadi simbol yang lebih kompleks dalam Holy Crowd. Film ini tidak hanya menghadirkan unsur mistis, tetapi juga menyentuh persoalan sosial mengenai kepercayaan masyarakat, kebutuhan akan harapan, hingga praktik eksploitasi terhadap seseorang yang dianggap “istimewa”.

Bagi Prilly, kekuatan utama Holy Crowd justru terletak pada bagaimana cerita tersebut memotret perilaku manusia secara realistis di tengah budaya masyarakat modern.

“Yang paling menarik buat aku justru bukan aspek horornya, tapi bagaimana perilaku manusia di sekitar Ratna terasa sangat realistis. Film ini bicara tentang perhatian publik, eksploitasi, dan bagaimana seseorang bisa tiba-tiba dijadikan simbol oleh masyarakat,” ujar Prilly.

Menurutnya, karakter Ratna terasa sangat dekat dengan realitas kehidupan saat ini, terutama di era media sosial ketika seseorang dapat mendadak viral dan menjadi pusat perhatian publik hanya dalam hitungan waktu singkat.

“Kadang masyarakat sebenarnya bukan peduli pada manusianya, tapi pada atensinya. Seseorang bisa dipuja, dibicarakan, lalu dilupakan dengan sangat cepat. Dan menurut aku, itu yang membuat cerita ini terasa sangat dekat dengan kondisi sosial kita hari ini,” lanjutnya.

Keterlibatan Prilly dalam Holy Crowd juga menandai perjalanan artistiknya sebagai aktris yang kini semakin selektif dalam memilih proyek. Ia mulai banyak terlibat dalam karya-karya dengan lapisan emosional mendalam serta isu sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat modern.

Lewat Holy Crowd, Prilly tidak hanya membawa nama Indonesia ke panggung Cannes Film Festival, tetapi juga memperkenalkan salah satu ikon horor paling khas dalam budaya lokal, yakni pocong, ke percakapan sinema dunia dengan pendekatan yang lebih satir, manusiawi, dan penuh kritik sosial.

Film ini pun menjadi bukti bahwa sinema Indonesia semakin berani mengeksplorasi identitas budaya lokal untuk dikemas menjadi cerita universal yang mampu berbicara kepada penonton internasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *