JAKARTA – Rahyang Hasta Studio (RHS Studio) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas industri dubbing di Indonesia dengan menggelar pelatihan dan sesi berbagi pengetahuan (knowledge sharing) bagi tim pra produksi, produksi, hingga pasca produksi. Kegiatan ini melibatkan para Recording Engineer (RE), operator studio, serta tim internal yang menangani proses penerjemahan, penyusunan naskah, mixing audio, hingga finishing subtitle (SRT).
Owner RHS Studio, Nindyarti, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di tengah semakin banyaknya proyek dubbing drama internasional yang dikerjakan, mulai dari drama China (dracin), drama India, drama Turki, hingga drama Barat.
“Hari ini kami mengadakan pelatihan untuk tim pra produksi dan finishing, sekaligus sharing bersama para Recording Engineer (RE) dan operator dari berbagai studio. Tujuannya agar semua tim bisa saling berbagi pengalaman, tips, dan trik sehingga pengetahuan mereka terus berkembang dan selalu update,” ujar Nindyarti di RHS Studio, di jl. H. Djaman, Tangsel, Banten pada Minggu (12/7/2026).

Menurutnya, proses pengerjaan sebuah proyek dubbing tidak hanya sebatas mengisi suara. Di balik hasil akhir yang dinikmati penonton terdapat tahapan panjang yang harus dikerjakan secara profesional.
Tahapan tersebut dimulai dari proses pra produksi, meliputi penerjemahan naskah (translate), adaptasi dialog agar sesuai dengan bahasa Indonesia yang natural, penamaan karakter (naming character), hingga penyusunan script lengkap untuk proses rekaman.
Setelah itu masuk ke tahap produksi, yaitu proses recording oleh Recording Engineer (RE) bersama para dubber. Selanjutnya hasil rekaman diproses pada tahap mixing audio, sebelum akhirnya masuk ke finishing, berupa pembaruan subtitle (SRT Update), penyelarasan subtitle (SRT Finishing), hingga pengecekan kualitas akhir sebelum dikirim kepada klien.
<span;>Dalam pelaksanaan pelatihan tersebut, Nindyarti didampingi oleh Ditha Anggraini selaku Studio Coordinator sekaligus Recording Engineer (RE), Priyambada Trilaksmana Surya Putra sebagai Mixing Engineer, serta Sesilia Belgius Delang selaku Project Manager yang membawahi tim pra produksi, produksi, hingga finishing.
<span;>Nindyarti menjelaskan, kegiatan serupa sebenarnya telah beberapa kali dilakukan. Menurutnya, semakin banyak proyek internasional yang ditangani membuat kebutuhan SDM berkualitas juga semakin tinggi.
<span;>”Mengerjakan drama China, drama India, drama Turki maupun drama Barat itu tidak semudah yang dibayangkan. Karena itu kami merasa perlu terus melakukan upgrade kemampuan seluruh tim agar mampu menghasilkan proyek dengan kualitas terbaik,” katanya.
<span;>Ia menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan adalah menyamakan standar kerja seluruh tim sehingga hasil produksi memiliki kualitas yang seragam.
<span;>”Talent yang kami miliki sebenarnya sudah mumpuni. Tinggal bagaimana kami terus meningkatkan pengetahuan mereka supaya output yang dihasilkan memiliki standar kualitas yang sama sesuai standar RHS Studio,” ujarnya.
<span;>Berawal dari sebuah komunitas dubbing, RHS Studio kemudian berkembang menjadi rumah produksi yang menerima berbagai proyek dubbing profesional. Dalam perkembangannya, kebutuhan tenaga pendukung seperti Recording Engineer, translator, script writer, mixing engineer hingga tim finishing semakin meningkat. Karena itulah RHS Studio membuka kesempatan bagi siapa saja yang memiliki komitmen untuk belajar.
<span;>”Syaratnya sebenarnya sederhana, yaitu memiliki kemauan belajar. Kalau sudah memiliki dasar sebagai dubber tentu lebih baik karena memahami subtitle dan alur dialog. Tetapi pemula juga boleh, yang penting punya komitmen waktu, serius, fokus belajar, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan,” terangnya.
<span;>Saat ini pelatihan tersebut diikuti oleh lebih dari sepuluh peserta. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan pelatihan menjadi dubber, melainkan pelatihan bagi profesi-profesi pendukung dalam industri dubbing.
<span;>”Kami bukan membuka pelatihan dubber, tetapi pelatihan untuk tim pendukung seperti pra produksi, operator, mixing, hingga finishing.” aku <span;><span;>Nindyarti.
<span;>Project Manager RHS Studio, Sesilia Belgius Delang, menjelaskan bahwa konsep pelatihan lebih menitikberatkan pada berbagi pengalaman dari tim senior kepada peserta baru.
<span;>”Kami sharing bagaimana menangani scripting agar ketika masuk proses produksi semuanya sudah jelas. Mulai dari episode, dialog siapa, siapa yang membaca, menit berapa, termasuk detail reaksi karakter. Dengan persiapan yang matang, proses produksi menjadi lebih lancar dan revisi dari klien bisa diminimalisir,” jelasnya.
<span;>Menurutnya, setelah proses scripting selesai, peserta juga diberikan pemahaman mengenai produksi bersama operator, proses mixing, hingga penyelarasan subtitle agar hasil akhirnya benar-benar sesuai dengan dialog yang diucapkan dubber.
<span;>Sementara itu, Mixing Engineer Priyambada Trilaksmana Surya Putra mengatakan seluruh tahapan saling berkaitan satu sama lain.
<span;>”Pelatihannya dimulai dari pra produksi, kemudian scripting, recording oleh operator, lalu masuk ke mixing. Di tahap mixing tugas kami menjaga kualitas audio agar nyaman didengar dan memiliki standar yang sama dengan kebutuhan proyek,” ujarnya.
<span;>Di sisi lain, Ditha Anggraini, Studio Coordinator sekaligus Recording Engineer, memberikan materi mengenai proses SRT Update dan finishing subtitle.
<span;>”Hari ini saya memberikan pelatihan bagaimana meng-update subtitle, kemudian proses finishing hingga subtitle benar-benar masuk ke video sesuai parameter yang diminta klien. Semua proses teknis ini sangat menentukan kualitas hasil akhir yang nantinya ditonton masyarakat,” katanya.
<span;>Ia menambahkan bahwa pelatihan juga menjadi sarana bagi dirinya untuk terus memperbarui kemampuan sebagai operator agar selalu mengikuti perkembangan industri.
<span;>Menurut Nindyarti, kualitas sebuah film hasil dubbing sangat bergantung pada kualitas tim pra produksi.
<span;>”Kalau ada film berbahasa China, India atau Turki, proses pertama tentu diterjemahkan dulu. Tapi bukan sekadar diterjemahkan, melainkan diadaptasi supaya terdengar alami dalam bahasa Indonesia.
<span;>Setelah itu dibuat script untuk operator dan dubber. Kalau script salah, hasil dubbing juga pasti tidak bagus. Klien tentu tidak akan menerima hasil yang tidak sesuai,” jelasnya.
<span;>Karena itulah RHS Studio memberikan perhatian besar terhadap seluruh proses sebelum rekaman dimulai.
<span;>Selain memiliki tim pra produksi dan finishing, RHS Studio juga memiliki manajemen talent dubbing.
<span;>Saat ini lebih dari 100 dubber telah tergabung dalam jaringan RHS Studio. Setiap kali ada proyek baru, pihak studio akan membuka proses casting sebelum mengirimkan sampel suara kepada klien.
<span;>”Nanti klien yang menentukan siapa dubber yang dipilih sesuai karakter yang dibutuhkan,” kata Nindyarti.
<span;>Telah Garap Belasan Judul Drama China.
<span;>Hingga saat ini RHS Studio telah mengerjakan lebih dari 15 judul drama China (dracin). Selain itu, RHS Studio juga menangani proyek drama Barat, sementara untuk drama India perusahaan mengerjakan proses pra produksi dan finishing.
<span;>Meski saat ini masih fokus pada proyek video pendek (short video), RHS Studio berharap ke depan dapat dipercaya menangani dubbing serial televisi maupun film layar lebar.
<span;>”Kami berharap semakin banyak proyek yang bisa kami kerjakan dengan tetap mempertahankan kualitas terbaik sehingga klien puas dan terus mempercayakan proyek mereka kepada RHS Studio,” ujar Nindyarti.
<span;>Menanggapi perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI), Ditha Anggraini menilai AI belum mampu menggantikan kualitas emosional seorang dubber manusia.
<span;>”Menurut saya AI tidak menjadi masalah. Kami bahkan pernah mengerjakan proyek yang awalnya menggunakan AI. Hasilnya tetap lebih bagus ketika diisi suara oleh manusia karena emosi, ekspresi, dan rasa yang disampaikan jauh lebih natural. AI masih terasa kaku,” katanya.
<span;>Pandangan serupa juga disampaikan Nindyarti. Ia mengaku tidak merasa tersaingi oleh kehadiran AI karena hingga kini para klien masih memilih kualitas suara manusia.
<span;>”Klien justru mengirimkan materi AI untuk kemudian didubbing ulang menggunakan suara manusia. Mereka tetap mencari hasil yang original dan natural. Karena itu tenaga profesional tetap sangat dibutuhkan,” tegasnya.
<span;>Nindyarti berharap pelatihan rutin tersebut mampu meningkatkan kompetensi seluruh tim sehingga setiap proyek yang dihasilkan RHS Studio selalu memenuhi standar kualitas perusahaan.
<span;>”Harapan kami tentu seluruh peserta mendapatkan pengetahuan baru, terus berkembang, dan mampu menghasilkan output terbaik sesuai standar RHS Studio sehingga kepuasan klien selalu terjaga,” pungkasnya.


