Jakarta – Fenomena susuk hingga kini masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Indonesia. Meski kerap menuai pro dan kontra, praktik pemasangan susuk ternyata tetap diminati oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa, pekerja hiburan, hingga kalangan tertentu yang meyakini manfaat spiritual dan energi dari benda tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh spiritualis sekaligus Ketua Umum Forum Keluarga Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (FKPPAI), Ki Sawung Rahsa, dalam wawancaranya di tempat prakteknya di kawasan TMII Pintu II, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026) mengenai sejarah, budaya, hingga perkembangan praktik susuk di Indonesia.
Menurut Ki Sawung Rahsa, susuk merupakan salah satu media spiritual yang digunakan untuk mengaktifkan energi pengasihan atau pemikat pada diri seseorang. Media tersebut biasanya berupa jarum emas berukuran kecil, serpihan intan, maupun berlian kecil yang dimasukkan ke dalam tubuh.
Ia menegaskan bahwa praktik susuk bukan sekadar mitos, melainkan bagian dari warisan budaya Nusantara yang telah dikenal sejak lama di berbagai daerah seperti Sumatera, Kalimantan, hingga Pulau Jawa.
“Susuk itu bagian dari kearifan budaya leluhur Nusantara. Di Sumatera ada, di Kalimantan ada, di Jawa juga ada,” ujarnya.
Untuk menelusuri asal-usul susuk secara lebih mendalam dan berbasis data budaya, Ki Sawung mengaku menggandeng dua tokoh budayawan, yakni Romo Gde Mahesa dari Yogyakarta dan Tengku Muhar Omtatok dari Sumatera Utara.
Dari hasil penelusuran tersebut, muncul berbagai temuan menarik terkait sejarah penyebaran susuk di Nusantara. Romo Gde Mahesa disebut berhasil membuat timeline penyebaran budaya susuk sejak abad ke-10 hingga abad ke-13.
Sementara itu, Tengku Muhar Omtatok menemukan adanya wilayah bernama Kampung Susuk di Sumatera Utara yang diyakini menjadi salah satu titik awal berkembangnya tradisi tersebut di tanah Melayu.
“Hikayat-hikayat Melayu yang dikumpulkan Tengku Omtatok memperkuat bahwa susuk lebih tepat berasal dari Indonesia,” kata Ki Sawung.
Berdasarkan penjelasan Romo Gde Mahesa, budaya susuk disebut berkembang dari wilayah Jawa Timur dan Bali, sebelum akhirnya menyebar ke Campa dan Malaka pada abad ke-16 hingga ke-17. Dari sana, praktik tersebut kemudian meluas ke Sumatera dan Kalimantan. Dalam kajiannya, Mahesa menggunakan berbagai referensi naskah kuno seperti Serat Centhini, Serat Dewa Ruci, hingga sejumlah lontar Bali yang membahas praktik energi dan spiritualitas Jawa kuno.
Ki Sawung juga mengungkap fakta menarik bahwa praktik susuk ternyata pernah dikenal secara tidak langsung di lingkungan pesantren. Ia menyebut adanya kitab bernama Silahul Mukmin yang memuat pembahasan mengenai pemasangan susuk dengan bacaan tertentu dari Surat Yusuf.
Menurutnya, dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa jarum yang dibacakan ayat Surat Yusuf sebanyak 4.444 kali dipercaya dapat meningkatkan kharisma dan daya pengasihan seseorang.
“Yang memasang susuknya justru seorang ustaz,” tandasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pembahasan soal susuk tetap harus disampaikan secara hati-hati karena banyak ulama yang menolak praktik tersebut dan menganggapnya bertentangan dengan ajaran agama.
Menanggapi anggapan bahwa susuk hanyalah sugesti atau efek placebo, Ki Sawung memiliki pandangan tersendiri. Ia menilai kekuatan susuk sangat berkaitan dengan sistem kepercayaan dan pola energi manusia.
“Energi mengikuti pikiran. Kalau seseorang menolak dalam pikirannya, maka susuk tidak akan bekerja,” katanya.
Ia sendiri lebih memilih menjelaskan susuk sebagai pola energi dibanding mengaitkannya dengan makhluk gaib atau khodam.
“Kalau soal ada khodam atau tidak, itu pembahasan lain lagi. Saya lebih suka menyebutnya sebagai pola energi,” jelasnya.
Hingga kini, menurut Ki Sawung, susuk emas masih menjadi jenis yang paling banyak diminati masyarakat. Selain itu ada pula susuk intan dan susuk berlian, meski penggunaan berlian cenderung terbatas di kalangan tertentu karena nilainya yang mahal.
Ia menjelaskan bahwa setiap jenis susuk dipercaya memiliki fungsi berbeda. Susuk emas diyakini dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kharisma, sedangkan susuk intan dipercaya memperkuat fisik sehingga banyak diminati atlet maupun kalangan militer.
Sementara susuk berlian disebut berkaitan dengan ilmu “pangirut dunia” atau daya tarik terhadap kekayaan dan kemewahan.
“Berlian itu lebih kepada image dan daya tarik duniawi,” katanya.
Dalam praktiknya, Ki Sawung mengaku kini lebih banyak menggunakan metode gold leaf atau lembaran emas sebagai pengganti susuk jarum emas. Menurutnya, metode tersebut lebih praktis dan mudah dinetralisir.
Gold leaf sendiri berupa lembaran emas 24 karat yang dihaluskan hingga setipis kertas, kemudian ditempelkan pada bagian tubuh tertentu seperti tangan, paha, pinggul, hingga betis.
“Kalau jarum emas harus dicabut lagi dan prosesnya tidak mudah. Kalau gold leaf lebih efisien,” ujarnya.Ia menjelaskan bahwa untuk mencabut susuk tradisional biasanya digunakan media seperti bawang putih atau daun kelor.
Dalam pandangan Ki Sawung, dasar praktik susuk sebenarnya berkaitan erat dengan konsep akupuntur kuno. Dahulu, akupuntur disebut menggunakan jarum emas karena sifatnya steril dan tidak menimbulkan infeksi.
Ia juga menyinggung konsep meridian atau jalur energi tubuh yang dikenal dalam pengobatan Timur.
“Susuk itu pengembangan dari pemahaman jalur energi yang mengalir dalam meridian,” katanya.
Meski begitu, ia menyadari bahwa konsep tersebut masih diperdebatkan, terutama dalam dunia medis Barat yang lebih mengaitkannya dengan simpul saraf dan medan listrik tubuh.
Selama lebih dari tiga dekade praktik spiritual, Ki Sawung mengaku telah menangani berbagai pengalaman unik terkait susuk. Salah satunya saat memasang susuk emas pada seorang wanita asal Malaysia yang mengaku sering menjadi pelampiasan emosi suaminya.
“Saat dipasang di dahinya, susuk emas itu tiba-tiba hilang. Itu pengalaman luar biasa bagi saya,” tuturnya.
Ia juga mengaku sering menerima permintaan pemasangan ulang dari klien yang merasa kehidupannya berubah setelah menggunakan gold leaf, terutama dalam urusan rezeki dan popularitas.
Ki Sawung mengatakan banyak pekerja dunia hiburan yang datang kepadanya untuk memasang susuk, termasuk sejumlah artis dangdut dan pekerja migran Indonesia di Singapura.
Namun ia membantah anggapan bahwa susuk selalu berkaitan dengan ilmu hitam atau makhluk gaib.
“Itu stigma negatif. Saya sudah melihat sendiri banyak orang yang penuh susuk tetap meninggal secara normal,” tegasnya.
Meski pernah mempraktikkan susuk yang menggunakan khodam, kini ia lebih memilih metode berbasis afirmasi energi karena percaya emas, intan, dan berlian sudah memiliki energi alami masing-masing yang tinggal diaktivasi.
“Sekarang saya lebih fokus pada pola energi. Tinggal diselaraskan dengan energi orang yang memakainya,” pungkasnya.


