Jakarta – Penyanyi senior Nini Carlina kembali menunjukkan sisi lain kehidupannya di luar dunia hiburan. Sosok yang dikenal lewat lagu-lagu hits bersama Doel Sumbang itu kini tengah fokus membangun Rumah Alquran Nurul Hidayah di Dusun Kaligondo, Banyuwangi, Jawa Timur. Proyek tersebut menjadi bagian dari cita-cita besarnya untuk menghadirkan pusat pendidikan berbasis Alquran sekaligus ladang amal jariyah bagi masyarakat sekitar.
Di tengah kesibukannya sebagai publik figur, Nini mengaku pembangunan Rumah Alquran ini berangkat dari perjalanan hijrahnya beberapa tahun terakhir. Bahkan, impian tersebut sudah muncul sejak lima tahun lalu ketika dirinya mulai memikirkan bagaimana bisa ikut berkontribusi dalam mencerdaskan generasi muda melalui pendidikan agama.
“Alhamdulillah Rumah Alquran Nurul Hidayah di Dusun Kaligondo, Banyuwangi, sampai sekarang masih terus berproses. Bangunan sekolahnya sudah ditutup atapnya, kemudian masjidnya insya Allah setelah lebaran akan mulai dipasang lantai granitnya. Jadi semuanya terus berjalan,” ujar Nini Carlina saat dihubungi lewat telepom Selasa (26/5/2026)
Rumah Alquran tersebut dibangun di atas lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi yang dibagi menjadi beberapa area, mulai dari masjid, ruang belajar Rumah Alquran, hingga area parkir. Tak hanya itu, keluarga Nini juga telah menyiapkan tambahan lahan sekitar 2.000 meter persegi untuk pengembangan di masa depan apabila program pendidikan tersebut berkembang lebih besar.
“Lahannya memang sudah disiapkan untuk pengembangan ke depan. Harapannya kalau Rumah Alquran ini berkembang, kita tidak kesulitan lagi mencari lahan tambahan,” tuturnya.
Berawal dari Mushola Kecil dan TPQ
Nini mengungkapkan, perjalanan pembangunan Rumah Alquran ini sebenarnya bermula sejak tahun 2007 ketika keluarganya membangun sebuah mushola kecil di atas tanah milik orang tuanya. Saat itu dirinya hanya menjadi donatur pasif tanpa terlibat langsung dalam kegiatan operasional.
Namun seiring waktu, mushola tersebut berkembang menjadi Taman Pendidikan Alquran (TPQ) yang dikelola warga sekitar. Sayangnya, setelah pembina TPQ meninggal dunia, kegiatan belajar mengajar mulai berjalan seadanya.
“Waktu saya masuk ke sana, kondisi TPQ-nya hidup segan mati pun tak mau. Akhirnya saya ikut aktif mengelola, bukan cuma jadi donatur pasif lagi,” katanya.
Sejak terlibat langsung, Nini mulai membenahi sistem pembelajaran dengan membuat program harian, mingguan, hingga semesteran. Perlahan, TPQ tersebut mulai hidup kembali dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Ia mengaku sejak berhijrah, arah hidupnya mulai berubah. Setelah selama hampir sepuluh tahun mengurangi aktivitas di industri musik, Nini merasa memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada kegiatan sosial dan keagamaan.
“Sejak hijrah, pikiran saya memang lebih banyak ingin berbuat sesuatu di jalan Allah SWT,” ucapnya.
Dibayar Rumah Alquran Setelah Bernyanyi di Acara Pernikahan
Menariknya, pembangunan Rumah Alquran dan masjid tersebut ternyata memiliki kisah yang cukup unik. Nini mengaku proyek itu datang secara tak terduga setelah dirinya diminta tampil bernyanyi di acara pernikahan anak seorang kenalan.
Meski sudah lama vakum dari dunia tarik suara, ia akhirnya menerima tawaran tersebut karena menganggap keluarga mempelai sudah sangat dekat dengannya. Namun saat diminta menerima honor, Nini memilih menolaknya.
“Jadilah akhirnya honor menyanyi itu dibayarkan dalam bentuk pembangunan Rumah Alquran dan masjid ini. Jadi istilahnya saya nyanyi lalu dibayar dengan pembangunan Rumah Alquran,” ungkapnya.
Bagi Nini, kejadian itu menjadi jawaban doa yang selama ini dipanjatkannya kepada Allah SWT. Sebab sebelumnya ia sempat bingung memikirkan dari mana biaya pembangunan akan diperoleh.
Ingin Jadi Pusat Pendidikan dan Pemberdayaan Warga
Nini berharap kehadiran Rumah Alquran Nurul Hidayah nantinya bukan hanya menjadi pusat pendidikan berbasis Alquran, tetapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
“Harapannya manfaatnya tidak hanya dirasakan warga sekitar lokasi pembangunan, tapi mudah-mudahan bisa lebih luas lagi bahkan skalanya nasional. Saya juga ingin Rumah Alquran ini menjadi aliran kesejahteraan untuk masyarakat sekitar,” katanya.
Karena itu, konsep pendidikan yang diterapkan nantinya akan menggunakan sistem subsidi silang. Ada peserta didik yang akan dikenakan biaya dan ada pula yang mendapatkan fasilitas belajar gratis, terutama bagi masyarakat kurang mampu.
“Operasional Rumah Alquran tentu membutuhkan biaya besar. Jadi nanti insya Allah akan diatur mana yang berbayar dan mana yang tidak berbayar,” jelasnya.
Warga Kaligondo Gotong Royong Bangun Rumah Alquran
Dukungan masyarakat Dusun Kaligondo terhadap pembangunan Rumah Alquran disebut sangat luar biasa. Nini mengaku seluruh warga bergotong royong membantu proses pembangunan, mulai dari menyumbangkan dana hingga tenaga.
“Sudah puluhan juta rupiah terkumpul dari sedekah dan infak warga sekitar. Bahkan ibu-ibu di sana bergantian menyiapkan konsumsi tukang bangunan tiga kali sehari,” ujarnya.
Bagi Nini, dukungan tersebut menjadi bukti bahwa keberadaan Rumah Alquran memang diterima dan diharapkan masyarakat setempat. Terlebih lokasi pembangunan berada tepat di seberang rumah masa kecil keluarganya.
“Yang mendukung itu tetangga masa kecil saya, teman-teman orang tua saya, mantan guru SMP saya. Jadi semuanya menyambut dengan sangat hangat,” katanya.
Tantangan Pembangunan dan Proses Legalitas
Meski berjalan lancar, pembangunan Rumah Alquran bukan tanpa hambatan. Nini mengaku sempat mengalami kesulitan di awal, terutama soal koordinasi dan pembentukan panitia karena proyek tersebut hadir secara mendadak tanpa perencanaan matang.
Selain itu, lahan yang digunakan sebelumnya masih dimanfaatkan sebagai area pertanian keluarga sehingga membutuhkan penyesuaian sebelum pembangunan dimulai.
“Tapi kami percaya kalau membangun sesuatu di jalan Allah pasti ada ujiannya. Alhamdulillah semua bisa dilewati dengan kepala dingin dan hati yang lapang,” ungkapnya.
Saat ini, pembangunan disebut sudah mencapai sekitar 50 persen. Secara fisik bangunan utama telah berdiri dan tinggal memasuki tahap finishing. Sementara itu, pihak keluarga juga sedang mengurus legalitas yayasan yang nantinya akan menaungi Rumah Alquran tersebut.
Terinspirasi Rumah Alquran Modern dan Koleksi Alquran Mancanegara
Nini juga bercerita bahwa dirinya terinspirasi membangun Rumah Alquran setelah melihat sebuah pusat pembelajaran Alquran modern di Jakarta yang didirikan seorang mualaf warga negara asing.
Menurutnya, tempat tersebut memiliki konsep yang sangat baik, bersih, modern, bahkan memiliki museum Alquran. Dari situlah muncul keinginannya untuk menghadirkan konsep serupa di Banyuwangi.
Tak hanya itu, Rumah Alquran Nurul Hidayah nantinya juga akan menjadi tempat penyimpanan koleksi Alquran mancanegara milik keluarganya.
“Saya memang sudah lama mengoleksi Alquran dari berbagai negara. Ada yang dari Jerman, Uzbekistan, Turki, sampai tafsir Alquran bahasa Inggris dan Perancis tahun 1934,” tutur Nini.
Salah satu koleksi yang paling berkesan baginya adalah tafsir Alquran milik warga negara asing asal Selandia Baru yang diterimanya sebagai hibah setelah bertemu dalam sebuah pengajian online.
Dapat Dukungan Fitri Carlina dan Dwiki Dharmawan
Dalam proses pembangunan ini, Nini mengaku belum banyak artis yang ikut terlibat langsung. Namun sang adik, Fitri Carlina, disebut memberikan dukungan penuh. Selain itu, dukungan juga datang dari musisi Dwiki Dharmawan dan Ita Purnamasari yang selama ini menjadi bagian dari kajian online yang diikutinya.
“Semua inspirasi ini juga muncul karena mereka yang mengajak saya masuk ke kajian online,” ujarnya.
Ke depan, Nini berharap Rumah Alquran Nurul Hidayah bisa segera rampung dan mulai beroperasi sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Ia juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin ikut berkontribusi melalui sedekah, infak, maupun donasi pembangunan Rumah AlQuran ini.
“Harapannya Rumah Alquran ini bisa segera beroperasi dan menjadi tempat yang membawa manfaat besar untuk umat,” pungkasnya.


