Jakarta – Industri perfilman Indonesia memasuki babak baru yang bersejarah. Tiga asosiasi produser film utama, yakni Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) , Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI), dan Asosiasi Perusahaan Film Indonesia (APFI), untuk pertama kalinya sepakat bersatu membentuk Forum Produser Film Indonesia (FPFI).
Langkah strategis ini menjadi upaya kolektif dalam memastikan masa depan industri film nasional yang lebih inovatif dan inklusif. Forum tersebut dirancang sebagai ruang dialog berkelanjutan guna membahas berbagai isu krusial serta tantangan industri film ke depan.
Dalam pertemuan perdananya, forum ini melahirkan dokumen penting bertajuk Manifes Produser Film Indonesia, yang menjadi pernyataan sikap sekaligus komitmen bersama dalam merumuskan arah baru ekosistem perfilman nasional. Melalui manifes tersebut, produser ditegaskan sebagai lokomotif utama pembangunan industri yang harus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penyusunan kebijakan.
Forum menekankan pentingnya tata kelola industri yang sehat, transparan, dan akuntabel melalui penguatan ekosistem hulu hingga hilir, serta penerapan standar pembiayaan yang adil. Kolaborasi antar-asosiasi juga dinilai menjadi kunci dalam memperkuat advokasi kebijakan terpadu dan menghapus ego sektoral yang selama ini menghambat perkembangan industri.
Selain itu, forum mendesak negara untuk mengakui film sebagai sektor strategis nasional yang memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi kreatif dan diplomasi budaya. Para produser juga menuntut peran aktif pemerintah dalam memberikan insentif serta perlindungan distribusi agar industri dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari modernisasi industri, Forum Produser Film Indonesia berkomitmen membangun database perfilman berbasis data faktual, mulai dari produksi hingga jumlah penonton. Prinsip profesionalisme, meritokrasi, serta etika kerja juga menjadi landasan utama, termasuk komitmen melindungi pekerja film dari praktik eksploitasi.
Tak hanya itu, forum secara tegas menolak praktik monopoli dan pola bisnis tidak seimbang yang berpotensi melemahkan industri. Kreativitas berbasis keragaman budaya Indonesia pun akan terus dikembangkan agar mampu bersaing di kancah global.
Forum ini juga mendorong penguatan lembaga perfilman nasional agar memiliki peran sebagai pelaksana kebijakan, bukan sekadar pengarah. Hal ini menegaskan bahwa masa depan perfilman Indonesia berada di tangan para insan film itu sendiri.
Dengan terbentuknya forum ini, ketiga asosiasi mengirimkan sinyal kuat bahwa industri film Indonesia membutuhkan tata kelola modern berbasis data dan kolaborasi.
Konsolidasi ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional, serta menciptakan ekosistem film yang sehat, inklusif, dan kompetitif bagi seluruh pelaku industri.


