Maraknya Dukun Palsu Berkedok Ritual Gaib, MS Alfa Ingatkan Masyarakat Jangan Mudah Percaya

Jakarta – Fenomena praktik perdukunan palsu kembali menjadi sorotan di tengah masyarakat. Modus yang digunakan pun semakin beragam, mulai dari janji penggandaan uang, pengobatan gaib, hingga ritual pengusiran makhluk halus yang berujung pada pemerasan terhadap korban.

Menanggapi hal tersebut, praktisi supranatural sekaligus pemerhati spiritual Nusantara, MS Alfa, mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya pada oknum yang memanfaatkan ketakutan maupun harapan seseorang demi keuntungan pribadi.

MS Alfa mengaku prihatin karena masih banyak masyarakat yang menjadi korban praktik dukun palsu. Menurutnya, pelaku biasanya memanfaatkan kondisi psikologis korban yang sedang mengalami masalah berat, baik soal ekonomi, kesehatan, rumah tangga, maupun gangguan yang dianggap berbau mistis.

“Biasanya korban datang dalam kondisi bingung dan tertekan. Di situlah oknum dukun palsu memainkan ketakutan korban agar percaya penuh kepada mereka,” ujar MS Alfa dalam wawancara daring di Jakarta Barat.

Ia menjelaskan, salah satu modus yang masih sering ditemukan adalah praktik penggandaan uang. Pelaku menjanjikan korban bisa mendapatkan uang dalam jumlah besar melalui ritual tertentu. Korban kemudian diminta menyerahkan sejumlah uang sebagai “syarat” ritual, membeli perlengkapan gaib, atau biaya mahar khusus.

“Awalnya diminta uang sedikit, lalu bertahap semakin besar dengan alasan ritual belum sempurna, energi kurang kuat, atau perlu membeli minyak dan kembang khusus. Padahal itu hanya akal-akalan untuk memeras korban,” jelasnya.

Selain penggandaan uang, MS Alfa juga menyoroti praktik pengobatan gaib palsu yang kerap menggunakan trik manipulatif untuk meyakinkan pasien. Salah satu yang sering ditemui ialah berpura-pura mengeluarkan benda dari tubuh pasien seperti paku, jarum, rambut, atau benda lain yang disebut sebagai kiriman gaib.

“Kadang korban dibuat percaya bahwa dirinya terkena santet atau gangguan berat. Lalu pelaku melakukan ritual dramatis agar terlihat meyakinkan. Setelah itu pasien diminta membayar lagi karena katanya proses pembersihan belum selesai,” katanya.

Menurut MS Alfa, praktik semacam itu sangat merugikan masyarakat, bukan hanya secara materi tetapi juga mental. Tidak sedikit korban yang akhirnya mengalami trauma, kehilangan tabungan, bahkan terjerat utang karena terus diminta mentransfer uang demi ritual lanjutan.

Ia juga menyoroti modus pengusiran makhluk gaib yang dilakukan dengan cara menakut-nakuti korban. Pelaku biasanya mengatakan bahwa rumah korban dihuni makhluk berbahaya atau ada energi negatif yang bisa menyebabkan celaka bila tidak segera dilakukan ritual tertentu.

“Korban dibuat takut terus-menerus. Setelah itu diminta biaya tambahan untuk sesajen, minyak, benda pusaka, sampai ritual khusus di tempat tertentu. Ini yang sering membuat korban kehilangan banyak uang,” ujar MS Alfa.

Sebagai praktisi yang telah lama berkecimpung di dunia spiritual, MS Alfa menegaskan bahwa masyarakat perlu menggunakan logika dan tidak langsung percaya terhadap klaim-klaim berlebihan. Ia mengingatkan bahwa tidak ada jalan instan untuk mendapatkan kekayaan maupun kesembuhan.

“Kalau ada yang menjanjikan uang bisa berlipat dalam waktu cepat, masyarakat harus curiga. Begitu juga kalau ada pengobatan yang terus meminta uang tanpa kejelasan,” tuturnya.

Tidak sedikit oknum yang memanfaatkan kondisi emosional seseorang dengan menawarkan janji dapat mengembalikan pasangan, memperkuat cinta, atau membuat seseorang tunduk melalui ritual tertentu.praktik perdukunan berkedok pengasihan, pelet, hingga ritual pengikat pasangan kembali menjadi perhatian masyarakat.

“Tidak sedikit oknum yang memanfaatkan kondisi emosional seseorang dengan menawarkan janji dapat mengembalikan pasangan, memperkuat cinta, atau membuat seseorang tunduk melalui ritual tertentu,” ungkap MS Alfa.

Praktik semacam ini kerap dibungkus dengan istilah spiritual, budaya, maupun keilmuan tradisional agar terlihat meyakinkan. Padahal, banyak di antaranya justru mencampuradukkan ajaran dan istilah yang tidak sesuai pakem demi menarik kepercayaan korban. Karena itu MS Alfa mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati agar tidak mudah percaya pada klaim yang belum jelas kebenarannya, terlebih jika disertai permintaan uang terus-menerus atau ritual yang dibuat-buat.

“Untuk penipuan yang mengarah pada pengikatan seperti pelet maupun pengasihan, masyarakat harus lebih berhati-hati terhadap oknum yang mengaku bisa membalikkan pasangan dengan iming-iming ritual tertentu. Banyak yang membawa nama keilmuan Kejawen, namun justru dicampur dengan unsur di luar pakem aslinya demi meyakinkan korban. Contohnya dengan membawa budaya atau nama daerah tertentu untuk disandingkan, padahal itu tidak sesuai dengan pakem keilmuan puter giling itu sendiri,” terang MS Alfa.

MS Alfa juga mengimbau masyarakat agar lebih terbuka berdiskusi dengan keluarga atau orang terdekat sebelum mengambil keputusan terkait praktik spiritual tertentu. Menurutnya, banyak korban tertipu karena merasa malu atau terlalu percaya kepada pelaku.

“Jangan mudah terintimidasi oleh ancaman gaib. Kalau memang merasa ada hal yang janggal, sebaiknya cari pendapat lain atau laporkan kepada pihak berwenang bila sudah mengarah pada penipuan,” katanya.

MS Alfa berharap masyarakat semakin bijak menyikapi hal-hal yang berkaitan dengan dunia supranatural. Ia menekankan bahwa praktik spiritual seharusnya tidak dijadikan alat untuk menakut-nakuti atau memanfaatkan penderitaan orang lain.

“Spiritual itu seharusnya memberi ketenangan, bukan membuat orang ketakutan dan kehilangan harta benda. Karena itu masyarakat perlu lebih waspada terhadap oknum-oknum yang mengatasnamakan kemampuan gaib demi kepentingan pribadi,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *