Ramadhan Handyanto Pimpin WAMI 2026–2028, Bawa Misi Transparansi dan Digitalisasi Royalti

JAKARTA – Wahana Musik Indonesia (WAMI) memasuki babak baru kepengurusan untuk periode 2026–2028. Ramadhan Handyanto Jiwatama terpilih sebagai Ketua Badan Pengurus WAMI setelah mengikuti rangkaian proses pemilihan yang di dalamnya mencakup pemaparan visi dan program kerja, sesi diskusi, hingga penyampaian aspirasi bersama musisi dan pelaku industri musik.

Sosok yang akrab disapa Handy tersebut bukan nama baru di dunia musik Indonesia. Ia dikenal sebagai musisi, pencipta lagu, produser musik, bassist, sekaligus salah satu pendiri grup musik pop/R&B Soulvibe.
Dalam pemaparan visi dan program kerjanya, Handy membawa gagasan menjadikan WAMI sebagai lembaga yang semakin terpercaya, modern, transparan, bertumbuh, dan berdaya saing global.

Menurutnya, penguatan WAMI harus dimulai dari pembenahan internal. Tata kelola organisasi, sistem kerja, pelayanan kepada anggota, hingga pemanfaatan teknologi menjadi sejumlah hal yang akan mendapat perhatian dalam kepemimpinannya.

Ramadhan Handyamto Jiwatama – Ketua Badan Pemgurus WAMI 2026 – 2028.(Foto: Fah)

Handy menegaskan, pembenahan internal tersebut diharapkan dapat menghasilkan pelayanan eksternal yang lebih baik serta meningkatkan kepercayaan para pencipta lagu dan penerbit musik terhadap WAMI.

“Yang paling penting adalah mengembalikan WAMI menjadi lembaga yang kredibel, dipercaya banyak orang dan menjalankan fungsinya sesuai dengan seharusnya,” ujar Handy dalam sesi pemaparan di Jakarta pada Rabu (15/9/2026)

Salah satu fokus utama yang dibawanya adalah transparansi pengelolaan royalti. Ia mendorong penguatan sistem digital agar anggota WAMI nantinya dapat memperoleh informasi mengenai karya dan royalti secara lebih mudah melalui sistem yang terintegrasi.
Gagasan tersebut antara lain diwujudkan melalui optimalisasi aplikasi dan digital member experience. Handy membayangkan adanya sistem satu pintu yang memungkinkan anggota mengakses berbagai informasi terkait karya dan royalti secara lebih praktis.

Selain digitalisasi, peningkatan kualitas pelayanan anggota juga menjadi perhatian. Handy menyebut anggota sebagai prioritas, termasuk melalui penguatan customer service, perlindungan anggota, edukasi, serta sosialisasi mengenai hak-hak pencipta.

Ia juga mengusulkan adanya standar waktu pelayanan atau Service Level Agreement (SLA), sehingga setiap persoalan yang disampaikan anggota memiliki alur penyelesaian dan target waktu yang jelas.

Bagi Handy, edukasi mengenai royalti juga tidak kalah penting. Para pencipta lagu dinilai perlu memahami bagaimana sebuah karya menghasilkan nilai ekonomi, termasuk alur pemanfaatan karya dan hak-hak yang melekat pada lagu tersebut.

Karena itu, WAMI ke depan diharapkan dapat memperbanyak materi edukasi melalui video, infografis, forum diskusi, podcast maupun kanal digital lainnya. Edukasi tersebut juga akan melibatkan langsung para pencipta lagu dan pelaku industri musik.

“Kita ingin WAMI menjadi lembaga yang berkolaborasi dengan banyak lini untuk menunjang keberhasilan dan kebaikan industri musik Indonesia,” katanya.

Handy juga menggagas listening forum yang rencananya dapat digelar secara berkala, sekitar tiga atau empat bulan sekali. Forum tersebut menjadi ruang bagi para pencipta lagu untuk menyampaikan aspirasi sekaligus berdialog secara langsung dengan WAMI.

Tidak hanya pencipta lagu, forum tersebut juga dapat melibatkan publisher, label, promotor, akademisi serta berbagai unsur lain dalam ekosistem musik Indonesia.
Di sisi lisensi, Handy mendorong perluasan kerja sama dengan para pengguna musik.

Pendekatan persuasif dan kolaboratif akan menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kepatuhan terhadap kewajiban lisensi serta memperkuat nilai ekonomi karya para pencipta.

Kembalikan Kepercayaan Anggota

Dalam sesi tanya jawab bersama wartawan, isu transparansi menjadi salah satu perhatian yang disampaikan kepada Handy.

Menanggapi hal tersebut, Handy mengatakan langkah awal yang akan dilakukan adalah melakukan asesmen internal secara menyeluruh. Menurutnya, sistem internal yang kuat menjadi fondasi penting untuk membangun transparansi kepada anggota dan publik.

“Kalau internalnya belum solid, kan juga percuma. Jadi yang pertama sekali dilakukan adalah penguatan internal untuk transparansi keluar,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun sistem informasi yang memungkinkan anggota mendapatkan penjelasan mengenai hak mereka secara lebih detail.

Ke depan, ia berharap anggota dapat memperoleh informasi mengenai pengelolaan karya dan royalti dengan lebih terbuka serta mendapatkan penyelesaian atas pertanyaan atau persoalan yang mereka sampaikan dalam waktu yang terukur.

Handy mengakui bahwa sebelum terpilih memimpin WAMI, dirinya tidak pernah membayangkan akan berada di posisi tersebut. Sebelumnya ia merupakan anggota WAMI.
Kini, ia melihat tugas utama kepengurusan baru adalah membangun fondasi organisasi sekaligus mengembalikan kepercayaan anggota dan publik terhadap WAMI.

Lagu Adalah Aset yang Harus Dilindungi

Sebagai musisi dan pencipta lagu, Handy juga memberikan pesan kepada para pencipta lagu di Indonesia agar tidak hanya fokus menghasilkan karya, tetapi juga memahami hak ekonomi yang melekat pada karya tersebut.

Ia mengingatkan bahwa sebuah lagu merupakan aset yang memiliki nilai ekonomi dan dapat memiliki manfaat dalam jangka panjang.

Karena itu, pencipta lagu perlu memahami bagaimana karya mereka digunakan, bagaimana alur royalti bekerja, serta hak apa saja yang seharusnya diperoleh.

“Berkarya secara maksimal dari hati dan orisinal, tapi juga harus belajar mengenai pipeline karya dan royalti. Lagu itu salah satu aset pribadi yang bisa bernilai dan diwariskan turun-temurun,” pungkas Handy.

Dalam konteks tersebut, ia berharap WAMI dapat menjadi rumah bagi para pencipta lagu untuk mendapatkan perlindungan, edukasi serta pengelolaan hak ekonomi karya mereka.

WAMI sendiri merupakan lembaga manajemen kolektif nirlaba yang mengelola hak cipta musik anggotanya. WAMI menyatakan saat ini lebih dari 7.000 pencipta dan penerbit musik mempercayakan pengelolaan hak pengumuman karya mereka kepada organisasi tersebut.

Pengelolaan hak pengumuman mencakup penggunaan musik secara komersial di berbagai ruang publik, dengan WAMI berperan sebagai jembatan antara pencipta yang memberikan mandat dan pihak pengguna musik melalui proses lisensi serta distribusi royalti.

Dengan kepemimpinan baru periode 2026–2028, Handy membawa agenda penguatan tata kelola, transparansi, digitalisasi, pelayanan dan edukasi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem musik yang lebih kolaboratif.

Sejumlah tokoh industri musik turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut, di antaranya Armand Maulana, Bams Samsons, Indra Prasta, Johnny William Maukar, Lisa Aryanto, Leonard Nyo Kritaianto, Chico Hindarto, serta sejumlah musisi dan pelaku industri musik lainnya.

Kepengurusan baru WAMI diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pencipta lagu, publisher, label, pengguna musik, pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam pengelolaan hak cipta dan pengembangan industri musik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *